Ruang Lingkup
pragmatik sebagai bidang tersendiri dalam ilmu bahasa adalah deiksis, implikatur
percakapan, praanggapan, dan tindak ujaran. Pokok kajian pragmatik tersebut akan diulas di bawah ini.
Deiksis
Deiksis adalah
gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat
ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Dengan kata
lain adalah bahwa kata Kata saya,
sini, sekarang, misalnya, tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi
tergantung pada berbagai hal. Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah
diketahui siapa yang mengucapkan kata itu. Kata sini memiliki
rujukan yang nyata setelah di ketahui di mana kata itu di ucapkan. Demikian pula,
kata sekarang ketika diketahui pula kapan kata itu diujarkan.
Dengan demikian kata-kata di atas termasuk kata-kata yang deiktis. Berbeda
halnya dengan kata-kata seperti meja, kursi, mobil, dan komputer. Siapapun yang
mengatakan, di manapun, dan kapanpun, kata-kata tersebut memiliki acuan yang
jelas dan tetap.
Contoh, ketika seorang siswa yang mendapati tulisan di sebuah bus jurusan
Unesa, yang bertuliskan hari ini bayar, besok gratis. Demikian pula di
dalam sebuah warung makan di sekitar tempat kos mahasiswa, dijumpai sticker
yang bertuliskan Hari ini bayar, besok boleh ngutang. Ungkapan-ungkapan
di atas memiliki arti hanya apabila diujarkan oleh sopir mikrolet di hadapan
para penumpangnya atau oleh pemilik warung makan di depan para pengunjung
warung makannya.
Deiksis dapat di bagi menjadi lima kategori, yaitu deiksis orang (persona),
waktu (time), tempat (place), wacana (discourse), dan
sosial (social) (Levinson, dalam Nadar, 2009:53).
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang
berkaitanerat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang
‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga
jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Ketiga
jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau
penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative
penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa
Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak
penutur diungkapkan dengan ini dan itu. Marilah kita lihat contoh berikut. A dan
B sedang terlibat di dalam percakapan. A mengambil sepotong kue dan mengatakan,
“Kue ini enak.” Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai
kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal
kata-kata seperti di sini, di situ dan ini merujuk kepada sesuatu yang
kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata
seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak
kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu,
tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan
bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika
kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada
bentuk-bentuk pronominal. Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas
pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.
Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan
bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang
ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia, beliau kami, kita kamu,
kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri.
Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu
atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative
penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca. Pengungkapan waktu di dalam
setiap bahasa berbeda-beda. Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu
dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang
untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan
datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat
dari kapan suatu ujaran diucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar