Jumat, 05 Oktober 2012

Langue dan Parole



Dikotomi Langue Parole

                  Berikut mari kita lihat hubungan langue-parole dalam masyarakat. Sebagaimana dinyatakan di atas, hubungan keduanya tidak boleh dilihat sebagai hubungan satu arah. Pada praktiknya, parole tidak selalu berevolusi mengikuti langue; percakapan yang terjadi dalam masyarakat tidak selalu harus mengikuti kaidah tata bahasa. Sebaliknya, seringkali gramatika bahasa harus disesuaikan dengan penggunaan bahasa karena bahasa adalah konvensi sosial. Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan langue-parole adalah hubungan dua arah yang saling mempengaruhi.

Perbedaan

               Suatu ketika dalam suatu percakapan di kampus, seorang teman tiba-tiba memotong pembicaraan sambil membenarkan struktur kalimat yang saya ucapkan. ‘struktur kalimat yang kamu ucapkan kurang sesuai dengan gramatika Bahasa Indonesai’ teman tersebut berkata. ‘seharusnya kamu ucapkan dia mau ke mana? atau dia mau pergi ke mana? ” lanjutnya sambil menjelaskan bahwa struktur bahasa Indonesia adalah ‘subyek + predikat (kata kerja) atau subyek + keterangan tempat’ membetulkan kalimat yang sebelumnya saya ucapkan “mau ke mana dia?

              Dalam percakapan di atas, struktur Bahasa Indonesia yang disodorkan teman saya berlaku sebagai Langue yakni kaidah-kaidah yang berlaku. Sedangkan kalimat yang saya ucapkan adalah Parole yakni praktik berbahasa dalam kehidupan masyarakat. Sebelumnya dijelaskan bahwa Langue dan Parole berada pada posisi dikotomis. Dalam konteks ini, langue dipahami sebagai pola umum (kolektif) yang berlaku dalam sebuah bahasa pada contoh di atas disebut sebagai ‘struktur Bahasa Indonesia’ sedangkan parole merupakan ucapan individual sebagai  manifestasi dari Langue yang telah ada pada kognisi manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar